Cinta dan Benci

Mei 14, 2008

Dulu waktu masih bau kencur (baca: anak ingusan karena memang sering pilek), saya heran saat menonton film percintaan. Biasa terjadi, sang  laki-laki dalam film yang tadinya cinta setengah mati kepada sang aktris tiba-tiba bisa berubah menjadi benci setelah suatu peristiwa terjadi. Aneh. Lalu, kemanakah cinta menguap?

Sekarang setelah (semoga sudah) lebih dewasa, baru mengerti benar. Ada banyak asa saat seseorang jatuh cinta. Tentu dibarengi juga dengan pengorbanan, hal-hal yang dipertaruhkan, mimpi indah dan rencana masa depan yang sudah tercetak di kepala. Saat patah hati, tentu saja semuanya sirna tiba-tiba. Ada hampa dan ada luka. Ada rasa percaya yang terkhianati. Sakit adanya.

Lalu, apakah harus mencintai tanpa mengharap sama sekali? Beberapa orang justru membilang bahwa cinta yang tak benar-benar menginginkan seseorang yang dicintai sama saja bohong belaka. Esensi mencintai hilang saat tak ada ‘I need you, I want you‘.

Masih terheran juga kala seseorang mengucap ‘You are my sunshine‘ dan di kemudian hari bisa menyumpah ‘You are the worst thing in my life‘. Ada kontradiksi di sana.

Saya hanya mempertanyakan satu hal, silakan berkomentar bila berkenan. Bila memang ada cinta sejati, apakah masih ada benci saat cinta tak kesampaian? Bisakah?


Kamar, Cermin Kehidupan Seseorang

Mei 11, 2008

Ada saja orang yang bilang bahwa tulisan, bentuk wajah, garis tangan, selera makan atau pun perilaku menjadi cerminan karakter seseorang. Terpantul dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya.

Begitu pula kamar atau rumah Anda. Mencerminkan bagaimana Anda hidup sekarang ini. Bila kamar kacau balau, pasti kehidupan si empunya kamar tak jauh dari hal bernama berantakan. Sebaliknya, kamar yang rapi tentu memperlihatkan perencanaan dan disiplin dari yang tinggal di dalamnya.

Tentu dengan catatan, kamar yang didiami tersebut tidak rapi dan bersih karena ada pembantu yang siap sedia menata kamar setiap hari.

Bila kamar sudah mirip dengan kapal pecah, ada baiknya ditata-ulang. Barang yang tak berguna dimusnahkan. Sedangkan yang berserakan dirapikan sesuai dengan pengelompokkan barang-barang tersebut. Bila ada yang kurang, tambahi dengan pernak-pernik yang bermanfaat agar kamar menjadi lebih berwarna. Paling tidak, kamar rapi dan nyaman untuk didiami.

Begitu juga dengan kehidupan. Saat merasa banyak hal tertunda dan menyimpang dari rencana, ada hambatan di depan, ada hal-hal yang kurang berguna untuk dimiliki atau dilakukan atau pun merasa kurang nyaman dengan banyak hal; tata-ulang kehidupan tersebut.

Menata ulang kehidupan jelas tak semudah daripada menata kamar. Namun, bila menata kamar saja Anda sudah gagal atau malas, tentu menata kehidupan menjadi hal yang mustahil terjadi.

Sudahkah Anda menata kamar Anda? Bila sudah, tentu bisa diteruskan dengan kubikel di kantor, rumah atau mobil.

Barusan saya selesai menata kamar. Lebih nyaman untuk blogging dan berhibernasi.


Berubah!

Mei 11, 2008

Pernah lihat serial televisi anak-anak dari Negeri Sakura dengan pahlawan bernama Pahlawan Bertopeng dengan kendaraan Belalang Tempur-nya?

Saat terdesak dan harus menghadapi lawan-lawan monster, dia selalu berteriak “Berubah!”. Dari yang tampak sebagai manusia biasa bisa menjadi pahlawan pembela kebenaran dengan tenaga supernya. Setelah memberesi ‘para pengganggu ketentraman dunia’, si pahlawan kembali lagi ke bentuk semua yaitu manusia biasa.

Padahal hal berubah itu banyak terjadi di sekitar kita. Coba lihat seorang ibu yang tiba-tiba tangkas saat bayinya terancam nyawanya, kakek tua-renta yang kembali bernas saat dia dibutuhkan orang lain, anak yang cerdas setelah mendapat pujian atau orang-orang yang beringas saat mereka ditindas.

Orang bilang bahwa orang-orang yang tiba-tiba berubah itu seperti ‘muncul tenaga dalamnya’. Benar juga. Terlebih saat-saat di mana ‘kekuatan diri’ dibutuhkan sewaktu terdesak atau pun dihadapkan pada kasus ‘hidup dan mati’.

Namun, berubah itu tak harus saat ‘harus berubah’. Seyogyanya, jauh sebelum itu. Bukan karena terpaksa. Tapi karena memang adanya kesadaran diri untuk berubah. Bagaimana bila saat harus berubah tapi sudah terlambat untuk berubah? Hanya sesal yang didapat.

Tulisan di atas terinspirasi dari kata-kata bijak Jack Welch. Change before you have to.

Mari berubah menjadi lebih baik dari sekarang dan ucapkan “Berubah!”


Mempersoalkan Umur

Mei 11, 2008

Sepertinya perihal umur selalu menjadi pembicaraan yang tiada habisnya diperbincangkan. Untuk yang muda, pastilah mempersoalkan diri mereka yang masih di bawah umur. Sedangkan yang sudah tua selalu mempermasalahkan usia yang mau tak mau bertambah setiap tahunnya. Tak beda dengan yang paruh baya, selalu terpikir banyak hal antara masa muda dan masa tua.

Umur berkaitan dengan 101 aspek kehidupan. Entah itu berkaitan dengan pernikahan, sekolah, pekerjaan hingga ke hal sepele seperti kapan usia minimal bisa mendapatkan SIM.

Padahal umur berapa pun itu jumlahnya, patut dihargai. Umur bisa dibayangkan seperti nomor bab pada sebuah buku cerita. Sebuah alur linear yang semestinya ditulisi dengan macam-macam warna kehidupan. Setiap bab dalam cerita pastilah memiliki maknanya tersendiri.

Joan Collins pernah berujar perihal umur. Dia berkata bahwa “Age is just a number. Its totally irrelevant unless, of course, you happen to be a bottle of wine.”

Tak penting berapa umur Anda. Jauh lebih esensial memikirkan apa yang sudah, sedang atau pun akan Anda lakukan di umur Anda. Dulu, sekarang atau pun di masa mendatang. Umur tak perlu diributkan. Toh, hanyalah penanda waktu.


Warisan itu Berupa Rumah Penuh Cinta Kasih

Mei 7, 2008

Warisan merupakan sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang untuk orang lain. Dianggap berharga bila yang diwariskan berupa harta, rumah, nama baik, titel, kekuasaan atau pun banyak hal lainnya yang bisa dinominalkan. Sebaliknya, ada juga yang dijauhi semacam warisan hutang, nama buruk atau pun masalah.

Menyoal warisan, ternyata hal ini sering menimbulkan kekisruhan tersendiri. Diperebutkan dan juga dipermasalahkan. Tak usah mempertanyakan warisan bangsa atau negara. Warisan keluarga yang meskipun jumlahnya tak seberapa, bisa saja menyisakan perselisihan yang merenggangkan tali kekeluargaan yang ditandai dengan aliran darah yang sama.

Lalu, saya teringat dengan ayah yang sudah di atas sana. Tak ada harta melimpah yang ditinggalkan. Rumah pun belumlah sempurna terbangun. Bahkan, kehilangan satu-satunya tulang punggung keluarga membuat kehidupan lebhi sulit lagi. Ada duka tersendiri saat kehilangannya.

Namun, rupanya ayah meninggalkan sesuatu yang amat bermakna. Kenangan yang berharga. Jauh lebih berharga dari apa pun yang sifatnya fisik dan dapat dinominalkan. Ayah benar-benar memberi contoh bagaimana merasakan kebahagiaan hidup dalam kondisi apa pun. Susah sekalipun. Selalu ada senyum tersungging dari wajahnya yang kelelahan dan badannya yang dimakan usia sekaligus penyakit.

Meski tahu bahwa kami hanya bisa menghitung hari untuk menemani saat-saat terakhirnya, ayah tak mau jua berhenti menanam pohon rambutan dan mangga di tengah rintik hujan supaya kelak kami dapat menikmati buah-buah itu. Melengkapi rumah sedikit demi sedikit agar ada tempat berteduh bagi keluarganya meski tersenggal-sengga nafasnya.

Tak menyerah hingga saat terakhir. Sungguh suatu pengorbanan tersendiri. Suatu wujud cinta kasih. Hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja bila saatnya tiba untuk berpisah di dunia ini.

Hmm… Maaf, saya sedikit curhat sentimentil. Tapi saya tiba-tiba teringat tentang ayah saya saat berbincang dengan teman di Jakarta. Seorang ayah muda yang sungguh-sungguh sedang berusaha memiliki rumah demi anaknya tercinta meski harus dibayar dengan bekerja mati-matian di kerasnya ibukota.

Untuk ayah, terima kasih banyak…


Mengaduk-aduk Email Lama

Mei 4, 2008

Barusan saja saya melihat-lihat apa saja yang ada di archive email saya. Barangkali ada yang belum terbaca, tak terbalas karena sudah terburu lupa atau pun menemukan hal menarik yang tertimbun oleh pesan-pesan email yang lain.

Dan email-email lama pun bermunculan. Ada alamat dan pesan yang lampau dari teman dan keluarga. Teringat saya untuk mendaftar siapa saja kontak yang saya punyai. Sejenis ngumpulke balung pisah.

Lalu, segera beberapa pesan email saya ketik dan kirimkan. Isinya sederhana. Tanya ‘apa kabar’. Berharap beberapa masih ingat kepada saya dan tak menganggap email saya sebagai spam atau email tak berkonteks yang menyimpan pertanyaan tumben kirim email.

Aduk-aduklah email lama Anda. Banyak kenangan, lintasan peristiwa dan juga teman-teman lama beserta keluarga besar. Siapa tahu, teman yang hilang kabar bisa tersambung kembali.


Waktu untuk Diri Sendiri

Mei 4, 2008

Suatu saat saya ditanya seorang teman lewat ym. “Kamu hari Sabtu lagi ngapain?” Lalu, saya jawab. “Di rumah, santai seharian dan tak kemana-mana.” Rupanya teman saya heran dengan jawaban saya. Mungkin pikirnya orang-orang pada umumnya jalan-jalan, piknik, pacaran atau nonton di hari Sabtu yang umumnya libur di Negeri Merlion.

Hari Sabtu memang khusus saya peruntukkan untuk diri sendiri. Seharian, bila memungkinkan, hanya stay at home. Raga beristirahat dari aktivitas yang tentu membutuhkan enerji tersendiri. Justru, hari Sabtu saya sempatkan untuk membaca dan membalas e-mail, menelepon teman atau keluarga dan tentu saja blogging.

Yang jelas, pada hari sehari sebelum hari Minggu itu hanya ada myself and my ego. Jauh dari hingar-bingar ramainya jalanan di Negeri Merlion saat akhir minggu. Tidak perlu repot-repot memakai transportasi kota, meniadakan berkomunikasi langsung dengan orang-orang dan secara ekonomis cukup irit karena tak perlu mengeluarkan dana tersendiri. Secara biologis, kesehatan terjaga karena badan istirahat sejenak agar tak turun mesin.

Dan Sabtu kemarin kebetulan saya mendengarkan keluh-kesah adik saya yang merasa sangat capai bertemu dengan orang. Selalu saja ada teman atau keluarga yang ingin bertemu dengannya, bercakap dan melewatkan waktu bersama.

Ya, tiap orang pastilah membutuhkan waktu untuk diri mereka sendiri. Jauh dari kebisingan, ruwetnya pemikiran, enerji yang dikeluarkan untuk bersosialisasi dan mungkin basa-basi.

Sediakan waktu untuk diri sendiri. Tiap insan perlu waktu dan ruang untuk dirinya sendiri. Agar jiwa terasa lega dari segala bentuk sosialisasi dan interaksi.

Ya, hari Sabtu kemarin dan juga hari Sabtu yang lalu-lalu memang saya sediakan untuk Myself and My Ego. Menyepi. Tapi bukan kesepian. Saya perlu saat-saat sunyi dengan diri sendiri.

Mungkin Anda pun juga membutuhkan saat-saat dengan diri sendiri. Sediakan waktu itu dan nikmati sebelum jiwa terlalu lelah…


Stripgenerator.com

Mei 4, 2008

Unik. Itu kesan yang saya dapatkan kala mengunjungi Stripgenerator.com. Rupa-rupanya siapa saja dapat membuat komik strip yang sederhana hanya dengan salin & tempel lalu dimodifikasi sedikit.

Lalu, komik strip yang memiliki tautan tersebut dapat dikirimkan ke orang lain melalui e-mail atau pun dipasang di blog atau situs pribadi.

Lumayan untuk dicoba. Cukup menarik, mudah pemakaiannya dan gratis pula.


NComputing untuk Warnet dan Akademisi

Mei 4, 2008

Satu komputer bisa menjadi banyak komputer? Teknologi murah meriah, bersifat masal dan tetap dapat diandalkan selalu menjadi salah satu topik menarik bagi saya. Mengapa? Soalnya teknologi komputasi masih relatif tak terjangkau bagi banyak orang. Teringat saya bahwa dulu saja membeli sebuah komputer susah karena dana terbatas.

Dan saat surfing di hari Minggu, ada artikel yang merujuk penggunaan NComputing. NComputing, yang juga merupakan nama perusahaan penyedia teknologi tersebut, menjadikan sebuah komputer yang relatif standar dapat menjalankan semacam ‘virtualisasi’ menghadirkan banyak titik akses seperti Local Area Network.

Titik-titik akses tersebut lalu menjadi seperti ‘client‘ yang bisa dipasangi monitor, papan kunci dan tetikus. Seperti sebuah ‘client‘ pada umumnya. Namun, tanpa kehadiran CPU. Bayangkan saja bahwa satu komputer (server) dapat menampilkan apa yang ada di layarnya (sistem operasinya) ke puluhan monitor lainnya. Dengan pendekatan komputasi semacam ini diharapkan ongkos pemasangan jaringan komputasi bisa lebih terjangkau.

Lalu, saya jadi teringat akan keprihatinan kurangnya kuantitas dan kualitas komputasi di tanah air. Bukankah pendekatan jaringan ala NComputing dapat membuat ongkos pengembangan komputasi jauh lebih terjangkau untuk konteks di warung internet (baca: komputasi untuk publik secara komersial) dan bangku sekolah (baca: komputasi untuk mendukung kegiatan akademis secara pedagogis).

Dan ada tautan di NComputing yang merujuk ke TrueCafe dan sebuah studi kasus Republic of Macedonia First Nation to Provide a Computer for Every Student.

Pendekatan komputer jaringan murah meriah dan terjangkau seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita yang sepertinya selalu tertinggal baik tingkat maupun penetrasi teknologi komputasinya dari negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang sama-sama sedang berkembang.


Monotone Photoblogger Theme

Mei 4, 2008

Blog tak selalu berisikan rangkaian kata-kata semata. Ada blog yang memang hanya menampilkan koleksi gambar. Bukankah kata orang bijak, sebuah gambar dapat mewakili ribuan kata-kata.

Oleh karena itu, para penggemar photoblog, yang memang tertarik berbagi konten visual, bisa menggunakan theme paling baru dari WordPress bernama Monotone Photoblogger.

Tak perlu cemas untuk mengunggah (upload) banyak gambar karena WordPress memberikan ruang simpan yang cukup luas. Sedangkan tampilannya cukup sederhana. Fokus ke gambar yang hendak disajikan. Fitur yang menarik adalah adanya Archive, di mana para penikmat blog yang sedang blogwalking bisa lebih mudah mengeksplorasi gambar-gambar koleksi suatu photoblog.

Demonya bisa dilihat di monotonedemo.wordpress.com. Seperti itulah bentuk dari theme khusus gambar tersebut.

Tertarik? Ada baiknya dicoba. Apalagi bila Anda ingin menjadikan blog Anda sebagai tempat menampilkan keahlian Anda memotret, tempat memajang portofolio bagi fotografer.


Hargailah Penjaga Kasir Toko

April 30, 2008

Laki-laki di antrian pembayaran barang tersebut rewelnya bukan main. Minta dilayani lebih oleh penjaga kasir toko yang sudah kewalahan dengan barang-barang belanjaan laki-laki tersebut yang ‘manja’ padahal hanya soal memasukkan barang belanjaan ke keranjang belanjaan. Ditambah dengan antrian yang sudah mengular panjang.

Saya yang masuk dalam antrian tersebut pun mafhum. Penjaga kasir toko tersebut sedang kerepotan. Memakinya atau membuatnya bekerja lebih cepat tak bakalan menyelesaikan keadaan. Beberapa orang pindah ke antrian pembayaran lainnya. Tak sabar rupanya.

Ada rasa jengkel dan capai di wajah gadis penjaga kasir toko tersebut. Rupanya hari itu not her good day. Apa boleh buat? Sepertinya perlakuan kurang menyenangkan memang menjadi makanan sehari-hari penjaga kasir toko di mana makin hari makin banyak orang tak sabaran. Entah mengejar waktu atau memang ritme hidup kian cepat berputar.

Saat giliran saya tiba, dia pun masih menahan rasa akibat tak diperlakukan tak begitu baik oleh lelaki ‘manja’ yang tadi. Saat kelar dengan pembayaran, saya ucapkan ‘terima kasih’ sembari tersenyum.

Lalu, dia pun mengucapkan rasa terima kasih dengan tersenyum. Ada beban yang berkurang darinya. Ada siraman perhatian. Kecil tapi bermakna. 

Hargailah mereka yang selalu di pintu pembayaran. Lelah adanya. Dimaki-maki pun sering. Terima kasih pun jarang mampir. Oleh karena itu, perlakuan sopan dan terima kasih akan membuat mereka bersemangat. Mereka kan juga manusia. Mereka pasti lebih senang melayani dengan hati para pembeli yang berempati.


Ngumpulke Balung Pisah

April 29, 2008

Judul di atas merupakan kata-kata bahasa Jawa yang berarti ‘mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah’. Menyatukan kembali keluarga, teman atau pun kelompok tertentu yang sudah terpisahkan baik oleh waktu, jarak maupun kondisi yang berbeda.

Ngumpulke balung pisah memang perlu. Bila tak ada yang berupaya menyatukan kembali tentu saja hubungan relasi di masa lalu bisa saja hilang tak berbekas. Longgar dan kemudian lenyap. Padahal ada banyak kenangan manis kebersamaan. Sayang bila lalu menguap begitu saja.

Dan hari ini saya terharu. Saya bertemu dengan seorang tua berumur kira-kira sama dengan usia orang tua saya. Rambutnya sudah menguban. Dia dengan semangat ingin bertemu dengan saya. Kami sudah berkontak melalui e-mail dan telepon. Dia rupanya berupaya mengumpulkan alumni-alumni dari SMU (dulu SMA) di mana kami dulu menimba ilmu.

Berceritalah beliau panjang lebar. Yang saya tangkap dari percakapan dengannya adalah keinginannya untuk menguatkan hubungan antar alumni di mana pun kami berada. Dalam konteks ini tentulah di Negeri Merlion.

Tersadar saya bahwa beliau yang sudah sepuh (baca: sangat berumur) tetap peduli dengan hubungan alumni. Bahkan, beliau juga masih berkumpul dengan teman-teman dari bangku SD-nya. Hebat, bukan? Sedangkan saya yang masih muda cuek bebek (tak peduli) memperkuat relasi.

Ya, hari ini saya belajar sesuatu. Bahwasannya, mencari dan merawat relasi itu tak mudah. Perlu usaha yang tentu akan berbuah baik di masa sekarang maupun di masa depan.
 


Blogos, Blogger Solo

April 29, 2008

Baru kali ini saya mendengar tentang Blogos, komunitas blogger Solo. Rupanya kota yang dekat dengan Kota Gudeg tersebut juga diramaikan dengan blogger.

Sepintas lalu sewaktu saya cek di halaman Tentang da cukup banyak orang yang sudah bergabung di komunitas tersebut. Berkisar antara 38. Lumayan. Tentu sebenarnya ada lebih banyak blogger Solo yang mewarnai blogosfer hanya saja belum terdaftar atau tidak mengidentifikasikan diri sebagai blogger Solo.

Oleh karena itu, bila Anda seorang blogger sekaligus Wong Solo (kelahiran, tinggal atau merasa memiliki Solo), ada baiknya menambahkan diri menjadi bagian Blogos. Dengan begitu, komunitas blogger tersebut daapt berkembang dengan lebih cepat.

Pertanyaan untuk dijawab bila Anda mengetahuinya. Adakah komunitas blogger Solo selain Blogos? Apakah ini komunitas satu-satunya di Solo? Adakah komunitas blogger berdasar kota, provinsi atau daerah lainnya? Bila tahu, tak perlu sungkan menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.


Chevauchée

April 29, 2008

Silakan lihat penjelasannya di Chevauchée - Wikipedia. Pada intinya, Chevauchée ini merupakan salah satu strategi perang tidak langsung yang bertujuan untuk melemahkan pertahanan suatu negara sebelum mencaplok negara yang dimaksud.

Taktik Chevauchée yang terkenal ini pernah dipergunakan oleh Inggris Raya untuk menaklukan Kerajaan Perancis. Cukup efektif karena tanpa menggunakan pasukan yang besar, negara tujuan pencaplokan melemah secara drastis.

Jadi, tentara-tentara Inggris secara sistematis membumihanguskan ladang-ladang dan lumbung pangan secara sporadis di tanah Perancis. Otomatis, rakyat Perancis kelaparan dan jumlah upeti berkurang drastis. Salah satu guna upeti tentu untuk membayar kekuatan militer Perancis. Tak ada upeti dan makanan maka kekacauan terjadi di dalam negeri. Akibatnya, rakyat pun tak percaya lagi pada pemimpin negaranya.

Bila menilik apa yang terjadi di negara-negara berkembang terutama Indonesia, Chevauchée ini rupanya dipraktikkan secara terselubung oleh negara-negara maju yang kaya. Tak lagi melalui perang terbuka dengan kekuatan militer. Namun, menggunakan instrumen ekonomi, budaya dan ideologi.

Hasilnya, negara-negara lemah tersebut dikuasai aset-asetnya oleh negara-negara maju tersebut. Tampuk pemerintahan kelihatan kuat di luar. Tapi di dalamnya, pemerintahan sudah disetir seperti boneka-boneka yang tergantung oleh tali-temali yang tak kasat mata.

Tak kentara. Yang kelihatan hanya kekacauan dan ragu pada pemerintah. Namun, ternyata yang mengelola adalah penguasa ekonomi dan ideologi dari negeri lain.

Apa boleh buat?


Ngalaksa

April 29, 2008

Sudahkah Anda mendengar kata tersebut? Kata tersebut saya dapatkan kala membaca Perayaan “Lebaran” di Pedalaman Baduy Sederhana.

Rupanya tradisi saling mengunjungi keluarga untuk ‘bersilaturahmi’ sudah merupakan kebiasaan suku pedalaman Baduy sejak lama. Tanda bahwa sebenarnya tradisi kekeluargaan ini memang mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Budaya yang sederhana namun bermakna ini seyogyanya tak lekang oleh waktu dan modernisasi. Budaya yang baik memang harus dipegang dan diturunkan hingga ke anak cucu.


Tersenyumlah

April 27, 2008

Beberapa hari lalu, saya hampir mengalami pagi tanpa senyum mewarnai wajah saya.

Masalahnya sepele. Saya tak menyukuri apa yang saya punyai. Rupanya saya terfokus pada apa yang saya tak punyai saat ini. Padahal apa yang saya alami dan miliki jauh lebih baik daripada yang terjadi di masa lalu.

Yang saya rasakan adalah panas di hati karena belum mendapatkan beberapa hal yang saya inginkan. Perasaan saya saat itu bilang bahwa saya rupanya ‘tak cukup cepat berlari’. Harus berbuat apakah hingga saya bisa mencapai hal-hal tersebut.

Lalu, tiba-tiba saya merasa tak enak sendiri. Sepertinya wajah sudah seperti terlipat-lipat tak keruan. Perut mulas. Dada panas. Rupanya badan bereaksi terhadap perasaan hati saya dan pikiran yang tak menentu ini.

Lalu, ingat saya untuk tersenyum. Sebuah senyuman akan menghapus kekhawatiran dan gundah di hati. Dan benar. Saya tersenyum. Lalu, semangat dan langkah pun terasa lebih ringan pagi itu. Siap untuk memulai hari dengan perasaan positif.

Oleh karena itu. Tersenyumlah. Terutama di pagi hari. Itu suatu keharusan. Bukankah, when you smile, the world will smile to you?


Bingung Karena Banyak Pilihan

April 27, 2008

Biasanya orang terpaksa mendapatkan atau melakukan sesuatu karena tak ada pilihan lain. Namun, berbeda dengan salah satu teman saya. Dia mendapati bahwa begitu banyak pilihan membuatnya bingung untuk menjatuhkan pilihan. Mengambil keputusan bukan hal mudah baginya.

Pertama, dia mendapati bahwa dia mengenal beberapa teman wanita yang menarik hatinya. Semuanya dekat. Semuanya ramah dengannya. Hanya cukup melakukan pendekatan intensif dan ketekunan, pastilah ada yang bisa menjadi pelabuhan hatinya. Sayang, masih bingung juga untuk memilih. Maklum, semuanya menarik hatinya.

Kedua, saat mencari makanan di sebuah pusat jajan. Terdapat banyak sekali konter makanan. Semua lumayan untuk disantap. Dan rupanya itu membuatnya cukup lama memilih. Lihat sana, lihat sini. Bingung. Meski akhirnya dia mendapatkan makanan setelah beberapa lama.

Bingung. Itulah jadinya saat seseorang dihadapkan pada banyak pilihan tetapi ragu-ragu dengan pilihannya. Tanda bahwa seseorang tak menyadari apa yang sebenarnya dia dambakan, inginkan atau butuhkan.

Padahal cukup dengan melihat fakta, selera dan konsekuensi dari tiap pilihan. Lalu, pilih dengan sungguh-sungguh. Dan puas dengan pilihan tersebut apapun hasil akhirnya.


The Dreams Come True

April 27, 2008

Mimpi menjadi kenyataan. Sering saya dengar frasa tersebut. Memang benar adanya bila seseorang memimpikan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan berupaya mewujudkannya, apa yang didamba bisa tercapai.

Untuk saya pribadi, beberapa impian saya sudah tercapai. Beberapa bahkan melampaui apa yang saya perkirakan sebelumnya. Ada juga yang belum saya realisasikan. Tentu semuanya harus dilalui dengan perjalanan waktu dan tergantung dengan sekuat apa saya berusaha.

Hanya saja bila dipikir-pikir, rupanya saya alpa untuk bermimpi lagi. Hidup hanya mengalir biasa saja. Normal, tak ada guncangan namun juga tak bergejolak. Garis datar. Heran saya mengapa tak ada impian mampir ‘meneror’ di benak saya.

Bukan, saya bukan tak takut bermimpi karena takut gagal. Hanya saja saya pikir kesibukan membuat saya tak sempat memikirkan apa yang benar-benar saya impikan akhir-akhir ini. Bahkan, mimpi di malam hari pun sudah jarang.

Saya harus bermimpi lagi. Tentu dibarengi dengan ketekunan dan perencanaan yang matang. Bagaimana dengan Anda, apakah juga lupa bermimpi? Mari bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Impian yang benar-benar suatu saat nanti di masa senja membuat kita bisa menyanyikan lagu My Way dari Frank Sinatra.


Hari Buruh 1 Mei 2008

April 27, 2008

Setahun yang lalu, saya menulis postingan mengenai Hari Buruh 1 Mei 2007. Dan sebentar lagi, hari tersebut akan diperingati lagi tepat hari Kamis yang akan datang.

Dari tahun kemarin hingga tahun ini, adakah perubahan berarti untuk para buruh? Bagaimana menurut Anda?

Yang saya sayangkan bukan terletak pada bagaimana pemerintah berusaha menaikkan kesejahteraan mereka. Justru pada lemahnya pemerintah menggalakkan dunia entrepreneur di negeri ini.

Coba bila makin banyak yang tertarik untuk berwiraswasta, pasti akan banyak manusia-manusia yang tak menggantungkan nasibnya di pabrik-pabrik yang tak manusiawi dan tak memperhatikan nasib mereka.

Bukankah sejelek-jeleknya hidup manusia, manusia tetap bisa berusaha memperbaiki hidupnya dengan tangan mereka sendiri? Kecuali bila sudah menyerahkan nasib pada orang lain sepenuhnya. Kalau seperti itu, tak perlu protes atau pun berdemo. Toh, sudah menyerah kalah dari awal.


Hidup Umbi-umbian

April 27, 2008

Sudah terlalu jamak mendengar orang-orang melecehkan makanan bernama ketela. Salah satu jenis umbi-umbian yang katanya hanya sesuai untuk dikonsumsi orang tak punya uang. Ketela dan puluhan varian umbi-umbian memang selalu dipandang sebelah mata dalam sajian kuliner di negeri yang sering kelaparan rakyatnya ini.

Padahal di banyak negara, bahkan yang tak mampu memproduksinya sama sekali, umbi-umbian menjadi komoditi penting sebagai alternatif bahan makanan yang penuh gizi. Diolah dengan teknologi kuliner dan sentuhan para ahli masak, sajian dari umbi-umbian digemari dan laku dijual sebagai kudapan unik.

Mungkin, bangsa kita dan beberapa negara Asia tetangga kita saja yang sudah tergantung dengan yang namanya beras. Bahkan, tak dipungkiri roti menjadi kebutuhan pokok meski tepung terigu masih diekspor dalam jumlah besar dari negara lain. Kalau tak makan beras, bisa sakaw. Makan umbi-umbian, malah sakit perut dan ‘turun gengsi’.

Coba belajar dari Trisno rintis lumbung pangan dari umbi. Menarik bahwa apa yang dilakukannya merupakan inisiatif pribadi. Bukan karena alasan akademis atau pun bertani. Hanya orang sederhana dari Gunung Kidul yang suka mengumpulkan berbagai varian umbi-umbian.

Apa yang dilakukan pak Trisno membuktikan bahwa sebenarnya negeri loh jinawi kita ini tak perlu memunculkan tragedi kelaparan dan rawan gizi. Tentu bila masyarakatnya belajar untuk mensiasati alam dengan pintar-pintar mencari sumber alternatif. Aneh, kan, bila Indonesia yang subur tanahnya tapi tak mampu memberi makan penduduknya?

Seharusnya kita belajar dari Iran yang meyakini bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu bentuk pertahanan negara. Diembargo bertahun-tahun nyatanya tak membuat orang Iran tak bisa makan. Ajaib, kan?


I Just Fall in Love Again

April 24, 2008

Lagu tersebut sudah berulang-ulang saya putar. Sudah lebih dari sepuluh kali sepengetahuan saya. Tak juga saya berganti lagu atau mematikannya. Entah mengapa. Lagu duo The Carpenter yang (lagi-lagi) dinyanyikan oleh Susan Wong tersebut tersebut enak didengar dan kata-katanya sederhana namun bermakna.

Kalau ditilik judulnya, sudah bisa ditebak dengan mudah. Ada seseorang yang lagi kasmaran setelah lama tak mengecap rasa cinta. Entah karena memang didera kesibukan, masih terluka akibat patah hati atau pun hanya tak menyadari bahwa sekian lama betah (atau dibetah-betahkan) menjomblo.

Jatuh hati setelah sekian waktu tak mengalaminya memang bukan perkara mudah. Bisa jadi ada rasa enggan karena tak mau ada badai datang lagi saat asa tercabik kala cinta sudah terlanjur tumbuh besar dan terus membesar. Pintu relung hati yang tadinya tertutup mulai terbuka lagi. Ada rasa hangat sekaligus khawatir akankah rasa itu langgeng. Apakah yang datang kali ini akan menjadi yang terakhir?

Tapi seperti kata-kata dalam lirik I Just Fall in Love Again, tanpa dinyana sebentuk rasa tersebut tiba-tiba datang. Tak dinyana. Diakui atau tidak, rasa tersebut tak bisa dihindari. Mengada tanpa harus mengada-ada.

Bila rasa itu tumbuh, nikmati dan syukuri. Lalu, rawat dengan ketulusan dan kesungguhan agar tumbuh subur. Tak perlu takut dengan pikiran yang tidak-tidak seperti takut terluka atau kehilangan. Hargai dengan sungguh-sungguh karena kesempatan tak sering-sering datang dua atau tiga kali.

Falling in love should be simple, tender and warm. It adds a special flavour on your life.

Hmm, sudah lebih dari 17 kali rasanya mendengar lantunan lagu ini saat selesai menuliskan artikel ini.


Cinta Tak Bersyarat

April 23, 2008

Unconditional Love. Itu bahasa Inggrisnya. Banyak orang menganggapnya sebagai hal yang mengawang-awang. Mana ada di jaman sekarang ada hal semacam itu. Hanya slogan kosong tak berarti yang sering menjadi tema favorit di film-film  dan sinetron percintaan.

Bahkan, ada yang mengartikannya sebagai tak lebih dari love is blind. “Loe, kok, bisa-bisanya jalan sama orang kayak gitu? Loe, ga sadar atau kali kesambet?” Seperti itulah pendapat teman atau pun keluarga. Malah ditambah-tambahi dengan gaya bahasa perbandingan. “Gila, kamu tuh sudah sukses, kaya, masih muda dan cakep, lha dapat yang cacat seperti itu. Jelek lagi. Ga ada apa-apanya, lagi. Rugi!”

Hal seperti di atas sering saya dengar. Teman saya bahkan dengan berapi-api menyatakan bahwa calon istrinya haruslah jauh lebih muda agar lebih mudah diatur, cantik, seksi, sehat, pintar mengurus diri sendiri dan teman saya tadi dan mau ikut dirinya kemana saja. Ada juga kerabat yang mensyaratkan (dalam hati) bahwa suaminya harus punya gaji lebih dari 10 juta, berwibawa, pintar, lucu, perhatian dan lebih bagus kalau punya jabatan yang mentereng.

Lalu, masih adakah cinta tanpa syarat? Tentu ada. Tak banyak memang. Tak perlu kita mencari contoh pasangan yang salah satu atau dua-duanya memiliki kekurangan. Seperti halnya lumpuh total, menderita penyakit menular berbahaya, narapidana yang masih dalam penjara atau pun musuh masyarakat karena perbedaan pemikiran.

Tapi lihat di dekat kita. Ada kakek nenek yang sakit-sakitan yang masih mesra bersama dalam tahun-tahun senja mereka. Keluarga yang biasa-biasa saja kehidupannya. Pasutri yang belum juga dikaruniai momongan. Dua sejoli memperjuangkan hidup di tengah kerasnya ibukota dengan anak mereka.

Ada kekurangan. Jauh dari sempurna. Dikatakan normal atau standar pun tak bisa. Tapi ada cinta yang membuat mereka tetap bersama. Tanpa memandang situasi yang tak berpihak pada mereka. Teringat saya lagunya Eagle yang dinyanyikan ulang oleh Susan Wong berjudul Love Will Keep Us Alive.

Dan siang ini pun kebetulan seorang teman dari ibukota mengirimi saya artikel berjudul Cinta Tanpa Syarat tulisan Andrie Wongso. Cukup terharu saya membaca cerita yang sebenarnya sederhana tersebut.

Lalu, pikiran menerawang. Apakah masih ada sebentuk cinta seperti itu di masa kini? Bukankah realitas lebih penting? Bagaimana dengan Anda, apakah pernah menemui hal seperti itu atau bahkan mengalaminya sendiri?

Saya hanya wong ndeso lugu yang mempercayai itu. Tapi bisakah saya mengalami hal indah seperti itu? Waktu kan menjawabnya.


Greenery Sehari dan Hari Bumi 2008

April 22, 2008

Blog Munggur ikut-ikutan mengubah perwajahan (baca: theme atau skin WordPress) menjadi ‘lebih hijau’ untuk sehari. Tentu dalam rangka menyambut peringatan Hari Bumi 2008 yang jatuh tepat hari ini.

Untuk hari ini, perwajahan berwarna hijau yang sesuai dengan momen kali ini adalah Greenery (yang disumbangkan oleh LEMONed).

Perwajahan ini memang kurang ramah dengan mata. Terlalu terang bagi saya pribadi. Hanya saja, adanya gambar-gambar pohon sedikit menyejukkan.

Besok, tentu saja tampilannya sudah berubah lagi dengan memakai White as Milk. Maklum, itu perwajahan paling ramah perambah (dalam kaitannya dengan kecepatan tampil untuk dibaca) dan navigasinya mudah dimengerti.


Hari Kartini

April 21, 2008

Semua juga tahu bahwa ini Hari Kartini. Hari di mana emansipasi kaum Hawa diperingati. Momentum untuk memperjuangkan dan menyuarakan kesetaraan jender.

Tapi mengapa ya masih lekat di benak saya saat di bangku sekolah anak-anak perempuan memakai baju daerah agar mirip dengan Raden Ajeng kartini.

Tak lupa juga tentang permasalahan wanita yang kian lama makin terekspos media dan menjadi wacana tapi tak kunjung terselesaikan.

Lalu, untuk Anda para kaum Hawa, apa yang terlintas di benak Anda tentang Hari Kartini?


Memahami itu Melegakan

April 18, 2008

Timbulnya masalah-masalah di dunia yang sering membuat wajah terlipat, garis bibir turun ke bawah dan dahi mengkerut sebagian besar berasal dari kurangnya memahami sesuatu. Bisa juga akibat salah paham.

Jadi, pemahaman akan sesuatu hal merupakan hal yang penting. Biasanya bila suatu hal sudah sungguh-sungguh dipahami maka masalah selesai sudah. Tak ada lagi beban pikiran atau perasaan tertekan.

Namun, untuk memahami sesuatu ternyata tak mudah. Ada proses dan usaha. Bahkan, tak jarang membutuhkan panjang waktu tertentu hingga ada kata ‘oh, begitu’ yang terucap saat mendapat ‘pencerahan’.

Ya, memahami itu melegakan. Oleh karena itu, bila ada masalah atau rintangan tampak di depan mata, jernihkan benak Anda. Bila sudah paham, tentu rasa lega didapat, terlepas apakah masalahnya sudah teratasi atau belum.

Tak perlu risau apalagi hingga panik. Berikan waktu dan kesempatan diri sendiri memahami segala hal dalam kehidupan ini. Lalu, bilang ‘oh, begitu’ bila sudah benar-benar mengerti.


Menulis dan Rasa Lega

April 18, 2008

Pernah mendengar tentang teori bahwa dengan menulis ada rasa lega yang didapat? Menulis untuk mengungkapkan, mengeluarkan, mengekspresikan dan ‘membuang’ banyak hal yang berkecamuk di benak. Sama persis seperti curhat hanya saja terangkai dalam bentuk kata-kata.

Ada yang menulis di buku harian, jurnal pribadi atau ditaruh di blog. Shout out the brainstorm inside. Bila sudah ada ventilasi yang menyalurkannya, tentu saja plong rasanya. Lega. Lalu, benak pun menjadi kurang keruh. Syukur-syukur menjadi jernih kembali.

Menulis mengurangi beban pikiran dan perasaan. Dapat juga menyembuhkan. Ada sesuatu yang berat yang dibagi dengan banyak orang atau pun diletakkan untuk sementara waktu agar jiwa tak cepat lelah.

Ya, menulis itu menyehatkan. Jiwa menjadi terasa ringan. Siap untuk menapaki lika-liku kehidupan dengan ritme yang mantap.

Mari mulai menulis.


Antara Kebajikan dan Status

April 18, 2008

Tempo dulu, uru-guru di bangku Sekolah Dasar selalu menekankan agar siswa-siswanya membawa bekal hidup seperti kejujuran, kesederhanaan, kesetiaan, kebaikan dan menjadi rendah hati.

Namun, anehnya banyak dari anak-anak tersebut mengganti bekal hidup dengan sesuatu yang tampak oleh mata. Kekayaan, jabatan, titel dan tentu saja status sosial terpandang di mata masyarakat.

Hanya saja mengapa anak-anak tadi tak juga bahagia dengan hidupnya. Bahkan, bila tak mendapat pasangan hidup yang setara dengan mereka, ada rasa tak puas timbul dan kemudian menjadi tak bahagia adanya. Selalu ada yang kurang yang harus terus dikejar.

Tak peduli pasangan hidup mereka santun, baik hati atau pun setia, pokoknya harus cari yang tajir setajir-tajirnya, pintar bukan kepalang, punya posisi diawang-awang dan tak malu-maluin. Disamping tampan/cantik, seksi/atletis dan mengesankan tiap orang yang melihat mereka. Kalau perlu, gabungan dari semua kriteria tersebut.

Bahagia didapat? Ternyata tak ada garansinya. Toh, semua kembali ke esensi bekal hidup paling dasar yaitu kebajikan. Sedangkan yang ‘tampak di mata’ hanya pelengkap manusia untuk bertahan hidup di kerasnya kehidupan.

Bukankah begitu? Mungkin saja saya salah. Ah, mungkin pendapat saya tak sesuai dengan realitas…


Pikiran, Hati dan Sakit

April 18, 2008

Saat membaca Al Amin Sakit, Maaf… Terima Tamu Dibatasi, kontan saya menarik relasi antara pikiran, hati dan sakit. Benar ada hubungannya.

Coba bila Anda ditangkap, terlepas salah atau tidak, lalu diperiksa KPK tentu ada perasaan  khawatir. Apalagi bila memang melakukan kesalahan, kalau ketahuan tentu malu dan ada masa depan suram yang terbayang. Bisa jadi lalu patah semangat. Finalnya, jatuh sakit.

Direkayasa? Mungkin saja. Tapi tetap saja bila seseorang merasa terancam kelangsungan hidup sehari-harinya, pastilah ada gejolak dalam jiwanya. Bila tak kuat mengantisipasinya, sakit merupakan respon tubuh yang normal.

Masih untung bila sakit dan bisa tertolong. Bayangkan, berapa banyak orang terkena serangan jantung, stroke, sesak nafas dan kejang-kejang saat mendengar berita buruk, usahanya hancur, dikhianati atau pun dipersalahkan oleh orang lain. Paling tidak, pingsan atau roboh karena hilang kesadaran sesaat.

Tak usah mencari penyakit yang ‘keren dan benar-benar mengancam nyawa’. Bagaimana dengan sakit perut, jerawat, sariawan dan gatal-gatal karena hal-hal kecil? Nyatanya banyak terjadi dengan orang-orang di sekitar kita atau pun malah diri kita sendiri.

Oleh karena itu, jagalah pikiran dan hati sehingga tubuh tak mudah sakit. Begitu pula, di badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ada kebahagiaan di sana. Hidup terasa lebih hidup.

Ah, saya siapa sih saya kok jadi menggurui seperti ini. Tapi benar bukan, kita sering lupa bahwa pikiran, hati dan sakit ada hubungan erat. Tiba-tiba kaget karena sakit datang tak dinyana.


Tersesat di Labirin Pikiran

April 18, 2008

Melihat penampang otak manusia, ada milyaran sambungan syaraf, jutaan pembuluh darah dan tentu saja sinyal-sinyal elektrik di dalamnya tak henti-hentinya bekerja. Namun, pada saat yang sama ada pikiran yang bekerja sejak manusia tersebut mulai hidup.

Pada saat kondisi normal, seseorang dapat berpikir jernih. Melakukan segalanya dengan baik dan tentu terlepas dari pusing kepala.

Tapi tentu saja, tak selalu yang di dalam benak tersebut bekerja dengan normal sepanjang waktu. Bukankah sering, seseorang merasa tersesat di labirin pikiran. Entah karena rasa kecewa, khawatir, marah, sedih atau pun putus asa.

Lalu, segalanya pun berantakan. Masih otak yang sama di kepala yang sama. Hanya kondisi tak lagi sama. Ada badai yang menyerang. Pikiran menjadi tak jernih. Bahkan, ada yang sampai panik dan membabi buta.

Bila saat-saat itu datang, berhentilah berpikir. Ambil jeda dari aktivitas. Ambil minuman hangat sambil mendengarkan musik yang menenangkan. Tak ada jaminan bahwa otak lalu bekerja normal seperti sedia kala. Paling tidak, ada sedikit beban yang terkurangi dari otak.

Untuk saya sendiri, ini waktu yang tepat untuk menyeruput minuman hangat dan mendengarkan klenengan lagu Jawa dengan tempo lambat, pemberian dari seorang teman di ibukota.


Sukuk

April 17, 2008

Bukan suntuk, suluk atau kantuk. Tapi sukuk. Pertanyaannya, Sukuk itu apa?

Coba baca artikel bertajuk IMF: Sukuk Bisa Kurangi Biaya Pinjaman Pemerintah. Jadi, Sukuk itu rupanya Surat Berharga Syariah Negara.

Sukuk ini akan ditujukan untuk ‘menurunkan beban biaya pinjaman yang akan dikeluarkan pemerintah untuk pembiayaan defisitnya‘ (dikutip dari artikel dari Detik di atas).

Sungguh, saya tak mengerti benar Sukuk itu apa. Hanya bisa meraba maksudnya.

Yang penting, hari ini sudah menambah satu lagi akronim baru. Sukuk.