Cinta dan Benci
Mei 14, 2008Dulu waktu masih bau kencur (baca: anak ingusan karena memang sering pilek), saya heran saat menonton film percintaan. Biasa terjadi, sang laki-laki dalam film yang tadinya cinta setengah mati kepada sang aktris tiba-tiba bisa berubah menjadi benci setelah suatu peristiwa terjadi. Aneh. Lalu, kemanakah cinta menguap?
Sekarang setelah (semoga sudah) lebih dewasa, baru mengerti benar. Ada banyak asa saat seseorang jatuh cinta. Tentu dibarengi juga dengan pengorbanan, hal-hal yang dipertaruhkan, mimpi indah dan rencana masa depan yang sudah tercetak di kepala. Saat patah hati, tentu saja semuanya sirna tiba-tiba. Ada hampa dan ada luka. Ada rasa percaya yang terkhianati. Sakit adanya.
Lalu, apakah harus mencintai tanpa mengharap sama sekali? Beberapa orang justru membilang bahwa cinta yang tak benar-benar menginginkan seseorang yang dicintai sama saja bohong belaka. Esensi mencintai hilang saat tak ada ‘I need you, I want you‘.
Masih terheran juga kala seseorang mengucap ‘You are my sunshine‘ dan di kemudian hari bisa menyumpah ‘You are the worst thing in my life‘. Ada kontradiksi di sana.
Saya hanya mempertanyakan satu hal, silakan berkomentar bila berkenan. Bila memang ada cinta sejati, apakah masih ada benci saat cinta tak kesampaian? Bisakah?